ノートテキスト
ページ1:
CERPEN-CERPEN MAMLUATUL HIKMAH
ページ2:
Rok Putih Pengkhianatan Oleh: Mamluatul Hikmah Afika mematut diri di depan cermin tua yang buram. Rok seragam putih selutut itu jatuh pas di badannya yang mungil, sedikit kepanjangan. Namun, Afika tak peduli. Senyumnya merekah. Besok, 17 Agustus, ia akan berdiri gagah di tengah lapangan SD Negeri Karang Melati, bertugas sebagai salah satu pengibar bendera pusaka. Rok putih itu adalah pinjaman dari Mbak Indah, tetangga satu dusun yang kini sudah duduk di bangku SMA. Hanya Mbak Indah yang memiliki seragam putih dan masih layak pakai. Wajar saja, keluarga Mbak Indah dikenal sebagai keluarga yang berkecukupan di desa itu. Ayahnya adalah juragan sawit yang rumahnya berlantai keramik. Dua hari sebelum pelaksanaan upacara, Afika sudah mencuci rok putih itu dengan deterjen wangi dan disetrika sampai licin, siap untuk hari besar. "Semangat, ya, Afika!" seru Pak Sumadi saat latihan terakhir di sore itu. Afika mengangguk mantap. Ia tak sabar. Ini adalah mimpi terbesarnya di kelas enam. Namun, semangat Afika runtuh saat malam harinya, sekitar pukul tujuh. Mbak Indah berdiri di depan pintu rumahnya dengan wajah agak cemas. "Afika, maaf sekali, Dik. Rok putihnya boleh Mbak ambil sekarang?" tanya Mbak Indah dengan nada tak enak. Mata Afika langsung berkaca-kaca. "Tapi, Mbak. Besok Afika mau upacara," bisiknya, suaranya tercekat. "Iya, Mbak tahu. Tapi besok ada acara mendadak di sekolah Mbak. Ada penilaian kebersihan, dan Mbak harus pakai seragam lengkap. Maaf sekali, Afika. Mbak benar-benar lupa," jelas Mbak Indah, sedikit memohon. Ayah Afika yang mendengar percakapan itu dari dalam, langsung menengahi. "Tidak apa-apa, Nduk. Kasihan Mbak Indah kalau tidak pakai seragam. Nanti coba kita cari pinjaman rok putih ke Mbak Tari, ya. Semoga Mbak Tari masih punya."
ページ3:
Afika hanya bisa menunduk dan menyerahkan rok putih yang sudah dilipat rapi itu kembali ke tangan Mbak Indah. Setelah Mbak Indah pulang. Ayah langsung mengantarkan Afika ke rumah Mbak Tari. "Kira-kira rok putih Mbak Tari masih ada nggak, ya, Yah?" "Insyaallah ada, semoga masih rezeki Afika, ya." Malam itu, ia tidur dengan hati yang kecewa. Mimpinya untuk tampil sempurna sedikit buyar. Ia akan jadi satu-satunya petugas yang memakai rok putih kekuningan. *** Pagi 17 Agustus. Matahari belum terik. Namun, lapangan SD Negeri Karang Melati sudah ramai. Afika berdiri di barisan pengibar bendera. Seragam merah putihnya tampak kusam, terutama rok putihnya yang kontras dengan teman-temannya yang lain. Ia berusaha mengabaikan perasaan malu, fokus pada tugasnya. Upacara berjalan khidmat. Afika, meskipun dengan rok yang berbeda, menjalankan tugasnya dengan sempurna. Bendera merah putih berkibar gagah di ujung tiang. Tepuk tangan riuh terdengar dari seluruh peserta upacara. Afika menarik napas lega, rasa bangga mengalahkan rasa kecewa tadi malam. Setelah upacara selesai, saat para petugas pengibar sedang beristirahat di bawah pohon rindang, Imel, teman sekelas Afika yang keluarganya juga dikenal sebagai keluarga yang berkecukupan, mendekat sambil memegang minuman kotak. "Afika, selamat ya! Kamu keren banget tadi!" puji Imel. Tiba-tiba, mata Afika tertuju pada rok putih yang dipakai Imel. Rok itu tampak begitu putih dan bersih. Rasanya familier. "Mel, kamu pinjam rok putihnya siapa?" "Oh, ini aku pinjam ke Mbak Indah, Fik. Baru tadi malam aku pinjamnya. Untung rok putih Mbak Indah ini belum ada yang pinjam." Afika bergumam dalam hati. "Kok Imel pakai rok putih milik Mbak Indah? Katanya mau dipakai acara mendadak?"
ページ4:
Afika terdiam, hati kecilnya serasa ditusuk jarum. Rok putih itu ternyata bukan hanya dipinjamkan kepadanya dan Mbak Indah tidak mengambilnya kembali karena ada acara mendadak, tetapi agar bisa dipinjamkan kepada Imel. Afika merasa bodoh dan dimanfaatkan. Namun, ia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa pada Imel. "Oh, pinjam ke Mbak Indah. Kalau aku pinjam ke Mbak Tari," ujar Afika pelan, berusaha mengalihkan pembicaraan. Meski sedikit sakit, Afika memandang lagi ke tiang bendera. Bendera merah putih masih berkibar. Ia telah melakukan tugasnya dengan baik. Bukan rok yang membuat dirinya berharga, melainkan semangat di balik seragam yang ia kenakan. Afika tersenyum lagi, lebih tulus kali ini. Biarlah rok itu kembali, ia sudah membuktikan dirinya.
このノートに関連する質問
Undergraduate
Religion
tolong merangkum materi
Undergraduate
Religion
Tolong jawab kan soal bahasa arab dibawah ini
Undergraduate
Religion
cara memakai nya giman
Undergraduate
Religion
Contoh teks editorial
Undergraduate
Religion
apa yang dimaksud dengan zat heterogen?
Undergraduate
Religion
Kak tolong bantu ya
Undergraduate
Religion
Tolong di jawab
News
コメント
コメントはまだありません。