cerpen (cerpen crispy)
0
8
0
.
"Haduhhh, bagaimana ini? Aku terpeleset, sandalku putus lagi!" keluh Arya dengan wajah cemas, menatap sandal jepitnya yang sudah tak berbentuk.
Pak Dhe Parno hanya tersenyum tipis melihat tingkah bocah itu. "Baru saja Pak Dhe suruh hati-hati, kamu malah sudah terpeleset duluan. Ya sudah, Pak Dhe bersih-bersih dulu, setelah itu kita pulang. Nanti mampir ke warung, Pak Dhe belikan sandal baru."
"Benar ya, Pak Dhe? Terima kasih!" sahut Arya, rasa cemasnya seketika luntur berganti girang.
Mereka pun bergegas menuju warung Bu Darmi di pinggir desa.
ノートテキスト
ページ1:
M Mc Part 1 V
ページ2:
Beli Sandal By: Iqbal Kabul Mentari belum sepenuhnya nampak di ufuk timur, namun semburat jingga sudah mulai membasuh langit desa yang masih berselimut kabun tipis. Usai menunaikan salat Subuh, Ghani yang baru berusia sepuluh tahun itu tampak bersemangat. Ia segera melangkah keluar rumah, membelah udara pagi yang dingin menuju kediaman sahabat karibnya, Arya. "Ya! Arya! Ayo jalan-jalan pagi!" seru Ghani nyaring dari depan pintu pagar. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru. "Iya, tunggu sebentar!" sahut Arya dari dalam. Pintu terbuka, menampakkan sosok anak laki-laki dengan rambut yang sedikit acak-acakan namun matanya berbinar cerah. Tanpa banyak bicara, dua sahabat kecil itu segera beranjak meninggalkan halaman rumah, melangkah kaki menuju hamparan swah yang membentang di bagian timur desa mereka.
ページ3:
Di tengah jalan setapak yang masih basah oleh embun, mereka berpapasan dengan Pak Dhe Parno. Lelaki tua itu memanggul cangkul di bahu kanannya dan sebilah sabit terselip di pinggang. "Mau ke mana, Le?" tanya Pak Dhe Parno dengan suara baritannya yang hangat. "Jalan-jalan ke sawah, Pak Dhe," jawab mereka serempak, khas keceriaan anak SD. "Pak Dhe sendiri mau ke mana?" tanya Arya polos. Pak Dhe Parno terkekeh pelan, kumis * tipisnya ikut bergerak. "Ya mau ke sawah toh. Wong Pak Dhe bawa cangkul sama sabit, masa ya mau ke rumah sakit?" candanya yang disambut tawa renyah dari Ghani dan Arya. 92
ページ4:
alle Sesampainya di ujung desa, hamparan hijau padi menyapa mata mereka. "Pak Dhe, sawah Pak Dhe yang sebelah mana?" tanya Ghani sambil menunjuk beberapa petak tanah. "Sawah Pak Dhe di sana, yang ada gubuk kecilnya itu. Mau ikut ke sana?" tawar Pak Dhe Parno. "Iya, Pak Dhe! Mau!" jawab mereka antusias. Keduanya mengekor di belakang Pak Dhe Parno, meniti pematang sawah yang sempit dengan hati- hati. Sesekali kaki mungil mereka harus menjaga keseimbangan agar tidak tergelincir ke dalam lumpur. "Kalian duduk di gubuk saja, ya. Tidak usah ikut turun ke sawah, nanti pakaian kalian kotor,” ujar Pak Dhe Parno saat mereka tiba di gubuk bambu yang sederhana namun terasa sejuk. "Lihat, Gan, pemandangannya bagus sekali, ya!" seru Arya takjub sambil menjuntaikan kakinya di gubuk. "Iya, udaranya juga segar. Beruntung sekali kita tinggal di desa ini. Tidak perlu pergi jauh untuk melihat yang indah-indah," sahut Ghani sembari menghirup napas dalam-dalam, menikmati aroma tanah dan padi yang khas. "
ページ5:
IV Setelah beberapa lama menyiangi rumput liar, Pak Dhe Parno naik ke gubuk untuk beristirahat. "Pak Dhe, di sebelah sana itu sungai, ya?" tanya Arya sambil menunjuk aliran air yang berkilau terpapar sinar matahari. "Iya. Kamu mau main di sana?" "Boleh, Pak Dhe?" mata Arya berbinar. "Ya boleh saja. Ayo, Pak Dhe temani sekalian mau bersih-bersih badan," jelas Pak Dhe Parno. "Airnya dalam tidak, Pak Dhe?" Ghani memastikan dengan ragu. "Tidak, cuma setinggi lututmu. Tapi tetap harus hati-hati, ya!" pesan Pak Dhe Parno. Namun, peringatan itu seolah angin lalu bagi semangat Arya yang meluap-luap. Bruakk! Tiba- tiba Arya terpeleset di atas bebatuan sungai yang licin. Sebagian bajun, basah kuyup terkena percikan air. "Haduhhh, bagaimana ini? Aku terpeleset, sandalku putus lagi!" keluh Arya dengan wajah cemas, menatap sandal jepitnya yang sudah tak berbentuk. Pak Dhe Parno hanya tersenyum tipis melihat tingkah bocah itu. "Baru saja Pak Dhe suruh hati- -hati, kamu malah sudah terpeleset duluan. Ya sudah, Pak Dhe bersih-bersih dulu, setelah itu kita pulang. Nanti mampir ke warung, Pak Dhe belikan sandal baru." "Benar ya, Pak Dhe? Terima kasih!" sahut Arya, rasa cemasnya seketika luntur berganti girang. Mereka pun bergegas menuju warung Bu Darmi di pinggir desa.
ページ6:
117 Di warung Bu Darmi. di sana, tampak seorang gadis cantik sedang berbincang dengan pemilik warung. "Ada apa, Nduk Cah Ayu?" tanya Bu Darmi lembut kepada gadis itu. "Ini Mbok Dhe, saya disuruh Ibu membeli gula dan garam," jawab Novi dengan sopan. "Oh ya, tunggu sebentar, ya. Mbok Dhe ambilkan dulu barangnya," kata Bu Darmi. "Tumben kamu sedang di rumah, Nduk?" "Iya, Mbok Dhe. Sekarang saya sedang libur kuliah, makanya sedang pulang ke rumah," jelas Novi. Di saat yang sama, rombongan Pak Dhe Parno tiba. "Yu, Yu Darmi, apa di sini jualan sandal?" "Iya ada. Memangnya mau beli sandal buat siapa, Parno?" tanya Bu Darmi heran melihat penampilan Arya yang acak-acakan. "Ini, mau membelikan untuk Arya. Tadi sandalnya putus waktu main di sungai," jawab Pak Dhe Parno. Selagi Pak Dhe Parno memilihkan sandal, Arya terdiam. Matanya tak lepas menatap Novi yang berdiri tak jauh darinya. Karena jarang melihat sosok baru di desa itu, Arya merasa penasaran sekaligus terpukau. "Itu siapa, Gan? Wanita yang berdiri di situ?" bisik Arya pada Ghani. "Oh, itu Mbak Novi, anaknya Pak Santoso perangkat desa," terang Ghani. "Yang rumahnya di RT 2 itu, ya?" Arya memastikan. "Iya, Ya." Arya masih saja terpaku, seolah terhipnotis oleh keramahan dan kecantikan Mbak Novi yang tampak dewasa di matanya. la bahkan tidak mendengar saat Pak Dhe Parno berkali-kali memanggil namanya. "Ya! Arya!" Pak Dhe Parno mulai kehilangan kesabaran. "Arya! Ini Iho sandalmu! Dari tadi dipanggil kok tidak dengar, malah asyik melamun!" seru Pak Dhe Parno setengah berteriak sambil menahan tawa. Arya tersentak kaget, wajahnya memerah karena malu ketahuan melamun. Dengan gerakan gugup, ia menerima sandal jepit baru yang masih mengilat itu. "Eh, iya Pak Dhe. Maaf. Terima kasih banyak ya Pak Dhe, sudah dibelikan sandal baru," ucapnya terburu-buru sambil segera memakai sandalnya, berusaha menutupi rasa salah tingkahnya di depan sang kakak mahasiswa. M W
ページ7:
MAN 117 VA 1061 2 Lanjut Part 2 6
Comment
Komentar dinonaktifkan untuk catatan ini.