-
keadaan fakir.
2. Gaya Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz
pun
Ketika naik takhta, Umar bin Abdul Aziz mendapati situasi dan kondisi pemerintahan
sedang buruk. Keuangan negara juga berada dalam kondisi yang membahayakan. la
segera melakukan langkah-langkah strategis untuk menyelamatkan Dinasti Umayyah. Dengan
segera, Umar bin Abdul Aziz mengirimkan segala kekayaan yang dimilikinya ke kas negara,
termasuk milik istrinya, Fatimah binti Abdul Malik. Beliau mengharamkan atas dirinya untuk
mengambil apapun dari Baitul Mal. Sepanjang hidupnya, Umar dikenal sebagai sosok khalifah
yang zuhud, bahkan ia tidak mau menggunakan fasilitas pemerintahan yang sebenarnya adalah
haknya sebagai pemimpin negara.
Di antara bukti bahwa Umar bin Abdul Aziz sangat tidak ingin menggunakan fasilitas
negara adalah kisahnya dengan putranya. Suatu malam ketika ia sedang berada di kantor
untuk urusan negara, putranya datang. Begitu mengetahui bahwa putranya ingin membicarakan
masalah keluarga, Umar memadamkan lampu yang ia gunakan. Keduanya pun berbincang
dalam kegelapan. Ketika hal itu ditanyakan putranya, dengan yakin Umar menjawab bahwa
mereka sedang membicarakan masalah keluarga. Sedangkan lampu yang mereka gunakan
adalah milik negara.
Selain seorang yang zuhud, Umar juga diakui sebagai sosok yang menguasai ilmu agama
cukup mendalam sampai dijuluki 'allamah (orang yang sangat pandai) dan mujtahid (orang
yang cakap berijtihad). Sejumlah ulama ternama seperti Sufyan ats-Sauri dan Jalauddin as-
Suyuti sampai menyebutkan bahwa Umar merupakan Khulafaur Rasyidin kelima setelah Ali
bin Abi Thalib.
Umar bin Abdul Aziz juga melakukan langkah taktis untuk menghapuskan sistem feodal
yang begitu mengakar di Dinasti Umayyah. Ia tidak setuju dengan praktik ketidakdilan yang
selama ini telah berjalan. Seperti misalnya, kerabat-kerabat istana diperbolehkan menguasai
tanah sebanyak-banyaknya.
Bukan hanya tidak setuju, ia langsung memberikan contoh langsung. Ia memberikan
sebagian besar tanah milik pribadinya ke baitul mal untuk kepentingan rakyat. Ia juga tidak
sepakat kerabat istana digaji dalam jumlah besar dari anggaran negara karena sebagian besar
mereka tidak bekerja.
Jika khalifah sebelumnya fokus pada perluasan wilayah, maka Umar bin Abdul Aziz berbeda.
Ketika memimpin, ia mengubah haluan kebijakan Dinasti Umayyah. Ia tidak lagi fokus pada
ekspansi atau perluasan wilayah Islam. Sebaliknya, ia fokus pada keamanan masyarakat
demi mewujudkan ketenangan dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, ia juga bersikap
netral dan egaliter, menghargai perbedaan dan beradan di atas semua golongan, ras, suku.
Dua kebijakan tersebut membuat Umar bin Abdul Aziz dicintai rakyatnya. la mampu
meredam konflik antarras dan golongan. Pada masa kepemimpinanya, orang-orang Khawarij
tidak mengganggu keamanan sebagaimana mereka lakukan kepada khalifah-khalifah
sebelumnya. Orang-orang Syiah juga menaruh hormat kepadanya karena menghapuskan tradisi
mencaci maki Ali bin Abi Thalib dan keluarganya saat khotbah Jum'at.
Umar bin Abdul Aziz tidak segan-segan memecat pejabat pemerintah yang tidak kompeten
dan melakukan penyelewengan terhadap uang negara. Selama memimpin, tercatat ia memecat
enam gubernur yang tidak bisa diandalkan. Gubernur yang diganti di antaranya adalah gubernur
di Basrah, Kufah, Khurasan, Sijistan, Sind dan Yaman. Mereka digantikan oleh gubernur-
gubernur yang saleh, tidak korup dan bisa diajak kerja sama untuk kesejahteraan rakyat.
Pada era sebelumnya, Dinasti Umayyah melakukan banyak kebijakan diskriminatif terhadap
orang-orang Mawali (orang Islam non-Arab). Kepada Mawali, Dinasti Umayyah membebankan
pajak kharaj (pajak bumi) dan jizyah (pajak keamanan). Dua pajak ini kemudian dihapuskan
oleh Umar bin Abdul Aziz. Orang Mawali hanya diwajibkan membayar 10% dari hasil pertanian
yang disebut usyr. la beralasan bahwa Nabi Muhammad Saw., diutus bukan untuk memungut
pajak dan melainkan mengislamkannya.
48
Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VII / Genap (B-14)
Hoconak